Jumat, 17 April 2009

Untuknya

Aku terasing di sini. Di dunia tempat aku beraktivitas selama hampir 18 tahun. Dulu duniaku begitu indah. Begitu semarak oleh tawa, canda, senyum, dan energi positif lainnya. Aku pun memiliki banyak teman yang selalu berada di sekitarku dan siap membantuku kapan saja. Kebanggaan kedua orang tuaku pun selalu terpancar setiap mereka melihatku. Banyak sanjungan serta pujian ditujukan untukku. Dan aku sangat bahagia saat itu.
Tapi sekarang seakan semua itu musnah. Energi positif yang ada perlahan terkalahkan oleh energi negatif yang terus datang melingkariku. Beruntung aku masih punya teman. Walau mereka tidak bisa kuandalkan setiap aku butuh seperti dulu. Pancaran rasa bangga kedua orang tuaku tak luput meredup, berganti keprihatinan. Aku merasa semakin kerdil dan tak berguna.
Ketika dunia yang kuimpikan kucipta dalam imajiku, kecaman dan amarah dari berbagai pihak menyerangku. Bertubi-tubi sampai aku mengira mereka tak punya hati lagi. Aku menangis. Aku telah terjatuh dan kalah.
Tidak kupungkiri ketika aku terjatuh masih ada yang peduli padaku. Memompa semangatku untuk kembali berdiri. Mengulurkan tangannya untuk meraihku dari hinanya kekalahan. Namun entah kenapa aku menolak semua itu. Saat itu aku tidak menginginkannya. Yang kuinginkan adalah orang lain. Orang yang diam-diam mencuri perhatianku. Sayangnya orang itu tak kunjung datang. Dan aku semakin terjatuh ke lubang yang lebih dalam. Hingga aku pun berpikir untuk menyerah dan menunggu akhir hidup ini.
Aku tidak menyangka, orang yang telah kutolak dan kutepis dari hidupku tak pernah meninggalkanku. Seharusnya aku berterima kasih untuk kesetiannya itu. Tetapi hal itu semakin membuatku benci padanya. Entah kenapa.
Mungkinkah aku cemburu pada kehidupan miliknya? Kehidupan yang penuh tawa, canda dan seabrek energi positif miliknya? Mungkinkah itu Tuhan?
Kuakui kehidupannya begitu sempurna. Dia memiliki tawa dan canda itu. Dia juga memiliki banyak teman yang selalu ada untuknya. Dia pun memiliki kebanggaan yang kini begitu sulit kuraih kembali. Hingga sanjungan dan pujian tak henti tertuju untuknya. Mungkinkah ini penyebabnya? Penyebab aku tak menginginkannya?
Kecemburuanku mendorongku untuk menghancurkannya. Kubiarkan dirinya meraihku dan mendapatkanku ada di pelukannya. Perlahan aku memasuki kehidupannya dan mulai merusaknya. Aku adalah parasit di hidupnya. Tapi dia tak pernah tahu. Yang dia tahu aku telah menjadi miliknya. Dan aku menertawakan kebodohannya.
Waktu terus bergulir dan memperlihatkan kerusakan yang telah kubuat di hidupnya. Dia menyadari itu. Terlambat. Dia tak mampu lagi berpisah denganku. Aku begitu senang melihatnya seperti itu.
Kesenangan itu hanya sesaat. Karena tanpa bisa kucegah rasa sayangku lahir untuknya. Aku panik dan berusaha membunuh perasaan itu. Tidak! Aku tidak boleh jatuh hati padanya! Itu tekadku. Sayangnya aku tak sanggup. Perasaan itu bagai virus yang meracuni hatiku. Menyebar dan melumpuhkanku hingga aku pun tak mampu jika harus berpisah dengannya.
Lalu apa yang bisa aku lakukan kini? Tersiksa kecemburuanku akan kehidupannya dan tersiksa pula oleh perasaanku padanya. Ingin aku tak pernah ada di sini, tak pernah mengenalnya, tak pernah memasuki kehidupannya. Namun itu mustahil. Aku tak bisa memutar waktu. Tak ada yang bisa. Aku harus mau menanggung siksa dari perbuatanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar