Senin, 27 April 2009

Pengkhianatan

Aku benar-benar tidak menyangka. Aku tahu aku salah, tapi haruskah sesakit ini yang aku terima darimu? Aku pikir kamu benar-benar tulus padaku selama ini. Aku pikir kamulah yang terbaik yang aku miliki, tapi ternyata? Kamu tega melakukan semua ini padaku. Aku tak habis pikir, apa yang telah membuatmu membelot dariku? Apakah karena orang yang tak pernah henti menerorku itu? Kamu tidak bisa bertahan tanpa dia di sampingmu? Tapi kenapa kamu tidak mengatakan semua itu langsung kepadaku? Aku yakin aku bisa menerima pernyataan itu.
Sekarang hatiku hancur karena pengkhianatanmu. Namun aku tetap ingin mempertahankan hubungan ini bersamamu. Hanya kini terasa janggal saat aku di sampingmu, saat bercanda dan tertawa bersamamu, saat mendengarkan ceritamu, saat menguatkanmu untuk bangkit kembali, bahkan di saat kebencianmu terasa nyata padanya. Aku merasa aneh dengan ini semua.
Mungkin memang salahku selalu memintamu untuk membantuku di setiap permasalahanku dengannya. Aku melakukan itu karena aku tahu hanya kamu yang mampu menolongku untuk itu. Tetapi sungguh tak pernah terlintas di benakku kamu akan mengkhianatiku.
Tahukah kamu? Sebenci apapun aku padanya, aku masih menyimpan satu rasa untuknya. Tahukah kamu? Aku senantiasa berharap hubunganku dengannya tidak lagi seperti anjing dan kucing. Aku ingin bisa bersamamu dan juga bersamanya.
Sekarang aku minta penjelasanmu. Aku hanya butuh penjelasan yang berasal dari bibirmu langsung. Bukan dari siapa-siapa.

Kenapa kamu lakukan ini padaku? Kenapa kamu mencintainya dan berharap mendapatkannya, Sahabat? Padahal di sampingmu ada aku. Aku mencintainya. Dia pun mencintaiku. Kami saling mencintai. Kenapa?

Jumat, 17 April 2009

Untuknya

Aku terasing di sini. Di dunia tempat aku beraktivitas selama hampir 18 tahun. Dulu duniaku begitu indah. Begitu semarak oleh tawa, canda, senyum, dan energi positif lainnya. Aku pun memiliki banyak teman yang selalu berada di sekitarku dan siap membantuku kapan saja. Kebanggaan kedua orang tuaku pun selalu terpancar setiap mereka melihatku. Banyak sanjungan serta pujian ditujukan untukku. Dan aku sangat bahagia saat itu.
Tapi sekarang seakan semua itu musnah. Energi positif yang ada perlahan terkalahkan oleh energi negatif yang terus datang melingkariku. Beruntung aku masih punya teman. Walau mereka tidak bisa kuandalkan setiap aku butuh seperti dulu. Pancaran rasa bangga kedua orang tuaku tak luput meredup, berganti keprihatinan. Aku merasa semakin kerdil dan tak berguna.
Ketika dunia yang kuimpikan kucipta dalam imajiku, kecaman dan amarah dari berbagai pihak menyerangku. Bertubi-tubi sampai aku mengira mereka tak punya hati lagi. Aku menangis. Aku telah terjatuh dan kalah.
Tidak kupungkiri ketika aku terjatuh masih ada yang peduli padaku. Memompa semangatku untuk kembali berdiri. Mengulurkan tangannya untuk meraihku dari hinanya kekalahan. Namun entah kenapa aku menolak semua itu. Saat itu aku tidak menginginkannya. Yang kuinginkan adalah orang lain. Orang yang diam-diam mencuri perhatianku. Sayangnya orang itu tak kunjung datang. Dan aku semakin terjatuh ke lubang yang lebih dalam. Hingga aku pun berpikir untuk menyerah dan menunggu akhir hidup ini.
Aku tidak menyangka, orang yang telah kutolak dan kutepis dari hidupku tak pernah meninggalkanku. Seharusnya aku berterima kasih untuk kesetiannya itu. Tetapi hal itu semakin membuatku benci padanya. Entah kenapa.
Mungkinkah aku cemburu pada kehidupan miliknya? Kehidupan yang penuh tawa, canda dan seabrek energi positif miliknya? Mungkinkah itu Tuhan?
Kuakui kehidupannya begitu sempurna. Dia memiliki tawa dan canda itu. Dia juga memiliki banyak teman yang selalu ada untuknya. Dia pun memiliki kebanggaan yang kini begitu sulit kuraih kembali. Hingga sanjungan dan pujian tak henti tertuju untuknya. Mungkinkah ini penyebabnya? Penyebab aku tak menginginkannya?
Kecemburuanku mendorongku untuk menghancurkannya. Kubiarkan dirinya meraihku dan mendapatkanku ada di pelukannya. Perlahan aku memasuki kehidupannya dan mulai merusaknya. Aku adalah parasit di hidupnya. Tapi dia tak pernah tahu. Yang dia tahu aku telah menjadi miliknya. Dan aku menertawakan kebodohannya.
Waktu terus bergulir dan memperlihatkan kerusakan yang telah kubuat di hidupnya. Dia menyadari itu. Terlambat. Dia tak mampu lagi berpisah denganku. Aku begitu senang melihatnya seperti itu.
Kesenangan itu hanya sesaat. Karena tanpa bisa kucegah rasa sayangku lahir untuknya. Aku panik dan berusaha membunuh perasaan itu. Tidak! Aku tidak boleh jatuh hati padanya! Itu tekadku. Sayangnya aku tak sanggup. Perasaan itu bagai virus yang meracuni hatiku. Menyebar dan melumpuhkanku hingga aku pun tak mampu jika harus berpisah dengannya.
Lalu apa yang bisa aku lakukan kini? Tersiksa kecemburuanku akan kehidupannya dan tersiksa pula oleh perasaanku padanya. Ingin aku tak pernah ada di sini, tak pernah mengenalnya, tak pernah memasuki kehidupannya. Namun itu mustahil. Aku tak bisa memutar waktu. Tak ada yang bisa. Aku harus mau menanggung siksa dari perbuatanku.

UN.. UN..

Nggak terasa hari Senin besok udah UN. Kayanya baru kemarin ikut MOS. Huffhh. Kalo boleh jujur sih.. aku belum siap hadepin UN. Tapi kan siap nggak siap harus aku hadepin juga nantinya. Dari kemarin-kemarin udah maksa diri biar nggak males belajar. Alhamdulillah otak masih bisa diajak kompromi. Repotnya kalo otaknya lagi ngambek, kaya pagi tadi. Baru ngerjain 3 soal matematika udah pusing banget. Terpaksa minum obat n istirahat dulu. Malah kebablasan nonton tv sama mbak. Hehehe.
Alhamdulillah malem ini otaknya bisa diajak kompromi lagi. Malah ada 1 soal matematika yang biasanya langsung aku tinggalin (gara-gara nggak bisa ngerjainnya) bisa aku kerjain tanpa liat buku rumus! Akhirnya ada perkembangan juga. Fiuuhh. Tapi karena butuh refreshing, aku nulis dulu deh di blog ini.
Oh iya ! Ada tradisi lucu deh menjelang UN gini. Mungkin emang nggak semua murid kelas 3 lakuin ini, tapi aku yakin lebih banyak yang ngelakuinnya. Tau nggak apa? Yup! Atur strategi gimana caranya bisa kerja sama tanpa ketauan pengawasnya. Nggak asing kan?
Kalo diliat dari sisi positifnya sih bagus, solidaritas antarteman. Iya kan? Masa tega sih ngebiarin temen sendiri nggak lulus? Pasti nggak dong. Sebenci-bencinya sama salah satu temen di sekolah nggak mungkin sampe tega ngebiarin dia nggak lulus. Tapi kalo diliat dari sisi negatifnya, dampaknya bisa jadi ketergantungan lho! Iyalah, tergantung sama bantuan temen nantinya.
Bukannya sok pinter atau gimana, tapi sejujurnya aku nggak terlalu suka sama tradisi kaya gini. ini sih sama aja kita bayar sekolah mahal-mahal tapi cuma cari nilai aja. Rugi kan? Tapi kalo diliat dari tahun ke tahun serba salah juga sih, coz tiap tahun standar kelulusannya naik. Malah mulai tahun kemarin jumlah mata pelajaran UN ditambah. Jadi agak ngebebanin gitu deh! Cuma, apa iya harus itu yang jadi alasannya? Bisa nggak pemerintah bener-bener merhatiin bidang pendidikan dengan nggak asal aja tiap tahun ganti kurikulum? Jangan deh karena pengen ikut-ikutan negara maju yang nerapin kurikulum A trus kita juga ikut nerapin kurikulum A. Kan kemampuannya beda. Udah gitu negara kita kan masih masuk kategori negara berkembang. Kasarnya beda level deh sama negara maju. Lagian pelan-pelan kan bisa. Alon-alon asal kelakon kalo orang Jawa bilang.
Jadi bingung ya? Di lain sisi kita pengen ngejar ketertinggalan dari negara maju, tapi di sisi lainnya kita belum (bukan nggak mampu lho ya) sepenuhnya mampu. Berharap aja para pejabat yang kepilih nanti bener-bener bisa merjuangin Indonesia ke arah yang lebih baik. Terutama pendidikannya. Amin.
Hwaa! Kok jadi panjang lebar gini ya? Padahal kan cuma mau refreshing bentar. Kalo gitu saatnya belajar lagi. Semangat ya buat seluruh anak Indonesia! Aku yakin kita pasti bisa jadi kebanggaan Indonesia. Semangat!

Di Satu Tempat Kumenanti

Di satu tempat kumenanti
untuk melihat dunia pertama kali
entah siang atau malam hari
ku kan tetap menanti

Di satu tempat kumenanti
tuk dapatkan sayang di hati
tuk dapatkan cinta yang suci
ku kan tetap menanti

Di satu tempat kumenanti
untuk belajar pada mentari
meraih sinarnya yang hangatkan pagi
ku kan tetap menanti

Di satu tempat kumenanti
tuk lanjutkan langkah ini
ke dunia yang ingin kutinggali
ku kan tetap menanti
dan..

Di satu tempat kumenanti
untuk pergi dan kembali
seperti yang seharusnya terjadi
ku kan tetap menanti